Audit teknologi informasi (Inggris: information
technology (IT) audit atau information systems (IS) audit) adalah bentuk
pengawasan dan pengendalian dari infrastruktur teknologi informasi secara
menyeluruh. Audit teknologi informasi ini dapat berjalan bersama-sama dengan
audit finansial dan audit internal, atau dengan kegiatan pengawasan dan
evaluasi lain yang sejenis. Pada mulanya istilah ini dikenal dengan audit
pemrosesan data elektronik, dan sekarang audit teknologi informasi secara umum
merupakan proses pengumpulan dan evaluasi dari semua kegiatan sistem informasi
dalam perusahaan itu. Istilah lain dari audit teknologi informasi adalah audit
komputer yang banyak dipakai untuk menentukan apakah aset sistem informasi
perusahaan itu telah
bekerja secara efektif, dan integratif dalam mencapai
target organisasinya.
Tidak dapat dipungkiri bahwa, saat ini, tingkat
ketergantungan dunia usaha dan sektor usaha lainnya, termasuk badan-badan
pemerintahan, terhadap teknologi informasi (TI) semakin lama semakin tinggi.
Pemanfaatan TI di satu sisi dapat meningkatkan keunggulan kompetitif suatu
organisasi, akan tetapi di sisi lain juga memungkinkan timbulnya risiko-risiko
yang sebelumnya tidak pernah ada.
Ron Weber, Dekan Fakultas Teknologi Informasi, Monash
University , dalam salah satu bukunya: Information
System Controls and Audit (Prentice-Hall,
2000) menyatakan beberapa alasan penting mengapa audit TI perlu dilakukan,
antara lain:
1. Kerugian
akibat kehilangan data
Saat ini, data telah menjadi salah satu aset terpenting bagi
suatu perusahaan. Bayangkan, jika Anda pimpinan perusahaan yang sebagian besar
penjualan yang Anda raih dilakukan dengan cara kredit dimana para pembeli akan
membayar tagihannya di kemudian hari. Untuk mencatat penjualan, Anda
menggunakan bantuan TI. Akibat terjadinya gangguan virus atau terjadi kebakaran
pada ruangan komputer yang Anda miliki, misalnya, maka seluruh data tagihan
tersebut hilang. Kehilangan data tersebut mungkin saja akan mengakibatkan
perusahaan Anda tidak dapat melakukan penagihan kepada para pelanggan. Atau,
kalaupun masih dapat dilakukan, waktu yang dibutuhkan menjadi sangat lama
karena Anda harus melakukan verifikasi manual atas dokumen penjualan yang Anda
miliki.
2. Kesalahan
dalam pengambilan keputusan
Banyak kalangan usaha yang saat ini telah menggunakan bantuan
Decision Support System (DSS) untuk mengambil keputusan-keputusan penting.
Dalam bidang kedokteran, misalnya, keputusan dokter untuk melakukan tindakan
operasi dapat saja ditentukan dengan menggunakan bantuan perangkat lunak
tersebut. Dapat dibayangkan risiko yang mungkin dapat ditimbulkan apabila sang
dokter salah memasukkan data pasien ke sistem TI yang digunakan. Taruhannya
bukan lagi material, melainkan nyawa seseorang.
3. Risiko
kebocoran data
Data bagi sebagian besar sektor usaha merupakan sumber daya
yang tidak ternilai harganya. Informasi mengenai pelanggan, misalnya, bisa jadi
merupakan kekuatan daya saing suatu perusahaan. Bayangkan, Anda seorang
direktur suatu perusahaan telekomunikasi yang memiliki 5 juta pelanggan. Tanpa
Anda sadari, satu persatu pelanggan perusahaan Anda telah beralih ke perusahaan
pesaing.
Setelah melalui proses audit, akhirnya diketahui bahwa data
pelanggan perusahaan Anda telah jatuh ke tangan perusahaan pesaing. Berdasarkan
data tersebut, perusahaan pesaing kemudian menawarkan jasa yang sama dengan
jasa yang Anda tawarkan ke pelanggan yang sama, tetapi dengan biaya yang
sedikit lebih rendah. Kebocoran data ini tidak saja berdampak terhadap
kehilangan sejumlah pelanggan, akan tetapi lebih jauh lagi bisa mengganggu
kelangsungan hidup perusahaan Anda.
4. Penyalahgunaan
Komputer
Alasan lain perlunya dilakukan audit TI adalah tingginya
tingkat penyalahgunaan komputer. Pihak-pihak yang dapat melakukan kejahatan
komputer sangat beraneka ragam. Kita mengenal adanya hackers dan crackers.
Hackers merupakan orang yang dengan sengaja memasuki suatu
sistem teknologi informasi secara tidak sah. Biasanya mereka melakukan
aktivitas hacking untuk kebanggaan diri sendiri atau kelompoknnya, tanpa
bermaksud merusak atau mengambil keuntungan atas tindakannya itu. Sedang,
Crackers di sisi lain melakukan aktivitasnya dengan tujuan mengambil keuntungan
sebanyak-banyaknya dari tindakannya tersebut, misalnya mengubah atau merusak
atau, bahkan, menghancurkan sistem komputer.
Kejahatan komputer juga bisa dilakukan oleh karyawan yang
merasa tidak puas dengan kebijakan perusahaan, baik yang saat ini masih aktif
bekerja di perusahaan yang bersangkutan maupun yang telah keluar. Sayangnya,
tidak semua perusahaan siap mengantisipasi adanya risiko-risiko tersebut.
Survei yang dilakukan oleh Ernst & Young (Global
Information Security Survey 2003) menemukan bahwa 34% dari total perusahaan
yang ada saat ini tidak memiliki mekanisme yang memadai untuk mendeteksi
kemungkinanan adanya serangan terhadap sistem mereka. Lebih dari 33%, bahkan menyatakan
bahwa mereka tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk menindaklanjuti
ancaman-ancaman yang mungkin timbul.
5. Kerugian
akibat kesalahan proses perhitungan
Seringkali, TI digunakan untuk melakukan perhitungan yang
rumit. Salah satu alasan digunakannya TI adalah kemampuannya untuk mengolah
data secara cepat dan akurat (misalnya, penghitungan bunga bank). Penggunaan TI
untuk mendukung proses penghitungan bunga bukannya tanpa risiko kesalahan.
Risiko ini akan semakin besar, misalnya ketika bank tersebut baru saja berganti
sistem dari sistem yang sebelumnya mereka gunakan. Tanpa adanya mekanisme
pengembangan sistem yang memadai, mungkin saja terjadi kesalahan penghitungan
atau, bahkan, fraud. Kesalahan yang ditimbulkan oleh sistem baru ini akan sulit
terdeteksi tanpa adanya audit terhadap sistem tersebut.
6. Tingginya
nilai investasi perangkat keras dan perangkat lunak komputer
Investasi yang dikeluarkan untuk suatu proyek TI seringkali
sangat besar. Bahkan, dari penelitian yang pernah dilakukan (Willcocks, 1991),
tercatat bahwa 20% pengeluaran TI terbuang secara percuma, 30-40% proyek TI
tidak mendatangkan keuntungan. Selan itu, sulit mengukur manfaat yang dapat diberikan
TI.
Untuk Indonesia , alokasi
anggaran untuk investasi di bidang TI relatif tidak lebih besar dibandingkan di
luar negeri. Di Indonesia besarnya alokasi anggaran berkisar 5-10%, sementara
di luar negeri bisa mencapai 30% dari total anggaran belanja perusahaan. Namun,
bila dilihat dari nilai absolut besarnya Rupiah yang dikeluarkan, jumlahnya
sangat besar. Perusahaan-perusahaan besar nasional, seperti Garuda Indonesia,
Telkom, dan Pertamina semuanya, saat ini, sudah menerapkan sistem ERP
(Enterprise Resource Planning) dan bahkan berbagai aplikasi lainnya yang
melibatkan investasi yang signifikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar